Distibutor Vimax Extender

Cerita Dewasa Terbaru: Indra, Pemuda Idamanku

Koleksi Cerita Dewasa Terbaru 2017, ngentot dengan pemuda Impian

Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Dewasa Terbaru

Catatan penulis (setsunamiyo): cerita dewasa terbaru ini kayaknya cukup populer di dunia internet, yaitu “Bercumbu dengan Pemuda Idaman”, tokoh dalam cerita dewasa itu namanya Atika sama Indra. Nah karena saya tidak tahu siapa penulis aslinya, jadi saya tidak pernah kedapatan untuk meminta izin resmi dari penulis nya untuk menulis kembali. Dalam cerita dewasa terbaru hasil remake ini, saya menambahkan unsur konflik cinta juga. Pemain wanita nya pun saya ubah namanya, tapi karakter nya kurang lebih tetap sama.

Cerita Dewasa Terbaru 2017 – Indra, Pemuda Idamanku

Cerita Dewasa Terbaru EPISODE 1 : Pembukaan

Namaku Lisa, seorang wanita yang telah berusia 34 tahun dan telah bersuami. Menurut banyak teman, aku adalah wanita yang cukup cantik dan berkulit putih bersih. Yang luar biasa adalah postur tubuhku yang begitu terawat dan indah. Tinggi badanku 164 cm. Pantatku cukup bulat dan berisi dengan sepasang betis yang indah. Sepasang payudaraku yang berukuran 34B juga tampak padat dan serasi dengan bentuk tubuhku. Selama pernikahanku dengan suamiku, aku belum juga dikaruniai seorang anak.

Aku bekerja sebagai accounting manager pada sebuah perusahaan distributor yang cukup besar di kota Jakarta. Aku juga menjadi instruktur bermacam-macam kelas ditempat aku fitness, seperti body combat, body language, dan body pump. Aku merupakan orang yang fokus pada pekerjaanku, sehingga aku kurang pandai bergaul.

Sebagai seorang istri, aku merupakan seorang wanita yang setia pada suami.
Aku berprinsip, tidak ada laki-laki lain yang menyentuh hati dan tubuhku, kecuali suami yang sangat kucintai. Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain merupakan pantangan buatku. Akan tetapi, begitulah. Suamiku kurang dapat memuaskanku diatas ranjang. Kalaupun bisa, dia pasti kelelahan dan langsung istirahat. Aku hanyalah seorang wanita yang normal, wanita yang mendambakan kenikmatan seks dari laki-laki. Sehingga, mau tidak mau aku cuma bisa memainkan jari sambil membayangkan suamiku sedang memasukkan batang kejantanannya ke vaginaku, walaupun tidak senikmat kenyataan. Yah tapi apa bisa dikata. Sudah kewajibanku untuk menerima suamiku apa adanya dalam kaya miskin sehat sakit.

Suatu hari, aku sedang sibuk menghitung laporan keuangan perusahaan menjelang akhir bulan. Sekarang, aku yang memegang seluruh pengambilan keputusan terhadap divisi accounting. Hal ini dikarenakan asisten manajer divisi accounting ini resign bulan lalu karena masalah gaji. Sudah beberapa kali aku meng-interview calon asisten manajer untuk divisi accounting. Akan tetapi, semuanya tidak cocok. Giliran cocok, minta gaji ketinggian. Haduuh, susahnya.

“Permisi, Ci Lisa. Bisa ketemu sebentar?” Suara manager HRD, Wandy.

“Oh, silakan masuk, Wan.” Kataku.

Kemudian, pintu pun terbuka. Wandy masuk bersama seorang pria. Lho, sepertinya pria itu aku pernah melihatnya, entah dimana ya.

“Begini, Ci Lisa. Perusahaan sudah menyetujui bahwa dia akan menjadi asisten manajer divisi accounting untuk membantu Ci Lisa. Perkenalkan ci, namanya Indra.” Kata Wandy.

“Oh. Lisa.” Kataku sambil menyalami Indra.

“Indra.” Kata Indra sambil tersenyum.

Oh iya, Indra. Aku pernah menginterview-nya beberapa minggu lalu. Pengetahuannya tentang akuntansi boleh juga. Dan dari yang kupelajari, dia ini orangnya begitu gigih belajar dan sepertinya tidak mudah menyerah. Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah, cukup lumayan penampilannya. Indra berbadan tinggi besar dan atletis, tingginya sekitar 178 cm. Wajahnya pun cukup tampan dan maskulin, dengan warna kulit coklat muda dan rambut bergelombang. Sungguh aku tidak mempunyai pikiran atau perasaan tertarik padanya. Aku sih sportif saja ya, jika ia memang bagus, maka akan kuakui. Kubaca CV-nya waktu itu, dia mengatakan bahwa masih lajang. Indra belum tergolong tua, berumur 30 tahun.

Syukurlah, akhirnya aku mendapatkan seorang asisten manajer. Untungnya, Indra ini orang yang cukup pandai. Tidak hanya pandai, ia juga memiliki penampilan fisik yang bagus. Hanya dalam beberapa hari saja, seluruh wanita-wanita ABG di divisi accounting langsung jatuh hati kepadanya. Hal itu tidak mengherankan sih karena aku harus mengakui bahwa wajahnya yang ganteng dan tubuhnya yang atletis menjadi daya tarik tersendiri bagi wanita. Tidak sedikit anak-anak yang curhat kepadaku masalah perasaan mereka terhadap Indra. Akan tetapi, mereka semua tidak direspon oleh Indra. Katanya sih, Indra sudah memiliki seseorang yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Haah, seperti sinetron saja.

Hubunganku dengan Indra sih biasa-biasa saja, malah cenderung agak kaku. Mungkin karena ia masih baru. Meskipun begitu, Indra selalu menghormatiku. Nada bicaranya, pemilihan kata-katanya, dan sikapnya terhadapku menunjukkan rasa hormat yang begitu besar. Harus kuakui bahwa sebetulnya aku lumayan senang punya asisten manajer yang begitu menghormatiku. Ia juga tidak pernah mengeluh, dan selalu mencari pekerjaan demi memperluas wawasannya tentang perusahaan dan pekerjaannya. Dulu aku sempat tidak menerima dia di perusahaan ini karena gaji yang dia ajukan itu terlalu tinggi. Akan tetapi, mungkin divisi HRD lebih pandai dalam memperhitungkan keselarasan antara gaji dan performa. Yah, aku senang ia diterima di perusahaan ini, karena sampai sejauh ini dia menunjukkan sikap yang sangat baik.

Lama-kelamaan kekakuan aku dan Indra pun berkurang dan kami berdua menjadi akrab. Beberapa kali, kami sempat makan siang bersama sambil sharing mengenai pengetahuan dan wawasan masing-masing. Jika aku sudah makan siang berdua, aku selalu menjadi bahan pelototan anak-anak ABG di divisi accounting. Haduuh, memang masih anak-anak mereka itu.

Suatu hari, aku meminta bantuan Indra untuk membantuku lembur dikantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Tanpa kuduga, ia begitu bersemangat menyetujui permintaanku itu. Dia bilang hal itu berguna untuk semakin memperdalam pengetahuannya agar tidak tertinggal dengan anak-anak bawah, dan juga bisa mengayomi anak-anak bawah. Boleh juga semangatnya, aku akui itu.

Aku dan Indra terus berkutat pada pekerjaan yang telah kami janjikan masing-masing. Sekarang sudah jam tujuh malam. Entah sampai kapan ini akan selesai. Enaknya memang setelah capek-capek begini, begitu pulang itu langsung makan, mandi, dan bercinta dengan suami. Akan tetapi, begitu ingat bahwa suamiku memang kurang tahan lama di ranjang, aku jadi bete sendiri rasanya.

“Kenapa, ci?” Tanya Indra tiba-tiba.

“Eh, kenapa Ndra? Nggak apa-apa kok.” Kataku.

“Ah, masa? Muka cici ga bilang kalo cici ga apa-apa tuh.” Kata Indra.

Wih, tajam amat penglihatan dan pengamatannya.

“Ah masa sih? Aku nggak apa-apa kok, Ndra.” Kataku berdalih.

“Udah, ci ga apa-apa kok. Cerita aja sama aku. Aku sih harapnya bisa bantu, ci.” Kata Indra sambil duduk disofa dihadapanku.

Ruanganku ini memang tergolong cukup luas. Ada meja kerjaku, ada dua meja kerja lagi yang diperuntukkan bagi karyawan yang memang harus bekerja langsung denganku, dan juga ada sofa.

“Sorry, ci. Ga bermaksud kurang ajar, tapi kayanya masalah ranjang sama suami ya, ci?” Tanya Indra.

Mendengar hal itu, aku tersentak kaget. Bukan karena apa, tapi kenapa ia bisa tahu pikiranku begitu?

“Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu, Ndra?” Tanyaku.

“Ekspresi dan gestur cici mengatakan hal itu.” Kata Indra.

“Oh, kelihatan ya?” Tanyaku.

Indra hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya.

“Yah, mungkin agak aneh ya Ndra. Padahal aku ini wanita, tapi kok mikirinnya malah seks. Harusnya aku fokus kepada memelihara dan melayani keluarga.” Kataku dengan lirih.

“Hmmm, emang apa yang aneh ci dengan wanita dan malah mikirin seks?” Tanya Indra.

“Lho, menurutmu memang nggak aneh?” Tanyaku.

“Nggak sih. Seks itu kan kebutuhan dasar manusia, baik cowo maupun cewek. Jadi yah wajar aja sih kalo cici memikirkan seks, secara itu kebutuhan.” Kata Indra.

Seks adalah kebutuhan dasar manusia? Betul juga sih ya.

“Emang kenapa, ci? Maaf nih, tapi suami cici ga bisa muasin cici?” Tanya Indra.

“Yah, kurang lebihnya sih gitu, Ndra.” Kataku.

“Maaf nih ci kalo aku boleh tau, ga bisa berdiri ato cepet keluarnya?” Tanya Indra.

“Cepet keluarnya Ndra. Kadang baru aja masuk, udah keluar duluan. Kadang sih tahan lama, tapi yah begitu aku orgasme, dia juga keluar dan langsung kecapekan.” Kataku.

“Terus, cici kira-kira masalah dengan itu?” Tanya Indra.

“Yah, sebetulnya sih bukan masalah yang gimana-gimana banget sih, Ndra. Tapi, kadang tuh aku pengen banget dipuasin. Rasanya gimana gitu.” Kataku.

“Iya sih, aku ngerti, ci.” Kata Indra.

“Ngerti? Emangnya kamu udah pernah berhubungan badan?” Tanyaku.

“Waktu itu sih beberapa kali ci sama pacar. Tapi sekarang yah masturbasi aja seringnya.” Kata Indra.

“Kamu ini ya! Belom nikah, udah main berhubungan aja.” Kataku.

“Hehehe. Susah sih, ci. Namanya nafsu, emang susah ditahan. Tapi kan sama pacar aja, ga sama sembarang cewek.” Kata Indra.

“Apa bedanya?” Tanyaku.

“Kalo sama pacar kan juga dilandasi rasa sayang, ci. Jadi ga sepenuhnya bejat.” Kata Indra.

“Halah, ngeles aja kamu. Jadi kamu ama pacar itu jatuh cinta pada pandangan pertama ya?“ Kataku.

“Hah? Ga kok ci, maksudnya apa ya?” Tanya Indra dengan bingung.

“Itu, kata beberapa sumber, bilang kalo kamu udah punya seseorang yang kamu jatuh cinta pada pandangan pertama. Pacar toh.” Kataku.

“Oh, itu sih beda lagi, ci.” Kata Indra.

“Loohh… Kok beda? Ooohhh, jadi kamu masturbasi ngebayangin orang itu ya? Divisi accounting kan?” Tanyaku dengan senyum memancing.

“Betul, ci!… Ah, maksudnya ga kok ci.” Kata Indra dengan terbata-bata.

“Hayoo, kamu ngebayangin siapa? Sini cerita sama cici, siapa tau cici bisa macomblangin kalian berdua, terus kalian berdua nikah, dan fantasi kamu terwujud deh, Ndra.” Godaku.

“Ah, ga mungkin, ci.” Kata Indra dengan serius.

Hmmm, entah kenapa aku merasakan keseriusan di raut wajahnya.

“Kenapa nggak mungkin, Ndra?” Tanyaku.

“Ah, udahlah. Kok kita malah ngomongin beginian sih. Udah lanjut kerja aja yuk, ci.” Kata Indra.

“Ah, malu-malu kamu. Ayolah cerita aja udah.” Kataku.

Ya, singkatnya malam itu kami malah jadi ngalor-ngidul nggak jelas. Yang lebih parahnya, kita itu terkadang ngalor-ngidul soal seks. Ternyata, Indra itu cukup berpengalaman masalah seks. Ia selalu nyambung denganku yang notabenenya sudah menikah dan lebih paham masalah seks. Waduh, dia dan pacarnya sudah sejauh apa ya? Terkadang juga, aku menjadi terpancing untuk mengetahui bagaimana sisi laki-laki memandang seks. Dan yang aku simpulkan, ternyata Indra ini cukup unik. Ia memandang seks sebagai pelampiasan dari kasih sayang kepada wanita yang ia cintai, bukan hanya pelampiasan birahi semata. Menarik juga.

Karena kebanyakan ngobrol, kami baru selesai jam 11 malam. Indra menawariku untuk mengantarku pulang. Akan tetapi, aku menolaknya karena kebetulan aku membawa kendaraan sendiri. Kemudian, kami pulang ke rumah masing-masing.

Sejak kejadian malam pada saat kami lembur itu, terutama sejak kami banyak mengobrol soal seks, aku dan Indra menjadi semakin akrab. Kami banyak bercerita soal pengalaman hidup kami, pengalaman indah kami, pengalaman pekerjaan kami, dan juga seputar kehidupan seks. Ia juga terkadang bertanya seputar hal wanita. Aku tahu bahwa menurut anak-anak ABG divisi accounting, ada orang yang membuat Indra jatuh hati pada pandangan pertama. Akan tetapi, Indra tidak pernah mau menunjukkan orangnya padaku. Aku pun jadi penasaran juga dibuatnya. Kira-kira orang seperti apa yang mampu membuat Indra jatuh hati pada pandangan pertama. Dan mungkin, aku bertanya-tanya sebetulnya wanita seperti apa yang sangat beruntung mendapatkan tempat spesial di hati Indra. Indra ini orangnya begitu simpatik, baik hati, pintar, kritis, dan juga perhatian. Ditambah dengan wajahnya yang ganteng dan tubuhnya yang bagus, kurang beruntung apa lagi wanita itu. Akan tetapi, bukankah Indra sudah punya pacar? Apakah hatinya sudah berpindah? Entahlah.

Suatu hari, aku merayakan hari ulang tahunku yang ke-35. Ah, biasanya aku cuti untuk merayakannya bersama dengan suamiku. Akan tetapi, pekerjaan kantor sedang ada deadline, jadinya perayaan ulang tahunku terpaksa harus tertunda deh. Aku mendapatkan surprise berupa kue ulang tahun dari anak-anak divisi accounting, termasuk Indra. Malamnya, aku lembur membuat laporan keuangan perusahaan.

”Misi, ci. Bisa ganggu ga? ” Kata Indra sambil mengetuk pintu ruanganku yang kebetulan terbuka.

”Ya ada apa, Ndra?” Jawabku sambil tetap melihat layar komputer.

”Ini, ci. Ada beberapa yang aku ga ngerti. Boleh minta penjelasan ga, ci?” Kata Indra.

”Ooohh bisa. Mana yang kurang paham?” Kataku sambil berdiri dari kursi kerjaku dan mempersilakan Indra untuk duduk di sofa. Aku pun juga duduk di sofa disebelah Indra.

Kemudian, Indra mulai menunjukkan kepadaku data-data laporan keuangan yang telah dibuat oleh anak-anak ABG divisi accounting itu. Aku memberikan penjelasan panjang lebar kepadanya. Daya serapnya Indra pun cukup baik. Hanya beberapa kali kujelaskan, ia langsung mengerti. Hingga akhirnya, semua yang hendak ia tanyakan sudah ia pahami sepenuhnya.

“Oohh, sip deh, ci. Aku udah ngerti semua nih. Semua berkat cici. Makasih banget loh, ci.” Kata Indra sambil membungkukkan badannya.

“Ah, nggak apa-apa, Ndra. Makin kamunya ngerti, makin kebantu aku juga.” Kataku sambil tersenyum.

“Ci… anu…” Kata Indra sambil berpikir.

“Kenapa, Ndra?” Tanyaku.

”Aku punya hadiah ulang tahun buat cici nih. Cici mau nerima ga?” Tanya Indra.

Mendengar hal itu, aku sedikit kaget, tapi kemudian tersenyum.

“Ya ampun, Ndra. Repot-repot banget sih kamu, tadinya mah nggak usah, Ndra.” Kataku sambil tersenyum.

“Ga repot juga sih, ci. Tapi cici mau nerima ga nih?” Tanya Indra.

”Mau dong. Tapi, syaratnya hadiahnya harus banyak.” Jawabku bergurau.

“Yah ga tau sih ci, banyak ato ga. Menurutku sih lumayan banyak, tapi ga tau deh menurut cici banyak ato ga.” Kata Indra sambil tersenyum.

“Yaudah, aku anggep banyak deh. Mana?” Tanyaku sambil tersenyum.

”Nah, syarat cici kan udah aku penuhin nih. Sekarang, aku juga punya syarat nih, ci. Cici tutup mata dulu, baru aku kasih hadiahnya.” Kata Indra.

”Serius nih? Itu mah gampang. Oke, aku tutup mata nih.” Kataku sambil memejamkan mata.

”Tunggu ya, ci. Jangan melek dulu sampe aku kasih aba-aba.” Kata Indra.

“Iya.” Kataku.

Sambil terpejam, aku penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan oleh Indra. Aku bisa mendengar Indra duduk disebelahku. Tidak lama kemudian, aku merasakan ada benda yang lunak menyentuh bibirku. Tidak hanya menyentuh, benda itu juga melumat bibirku dengan halus. Rasanya begitu hangat. Aku langsung tahu bahwa Indra sedang menciumku. Maka, aku langsung membuka mata. Wajah Indra begitu dekat dengan wajahku. Tidak lama kemudian, tangannya pun merangkul pinggangku. Jujur, mendapatkan perlakuan seperti itu, dadaku berdebar-debar dengan cepat. Aku pun juga tidak berusaha menghindar. Untuk beberapa saat, Indra masih melumat bibirku. Kalau boleh jujur, aku pun juga mulai menikmatinya. Beberapa saat secara refleks, aku juga membalas melumat bibir Indra. Kini, kami saling berciuman dan melumat bibir masing-masing.

Tiba-tiba, kesadaranku menguasaiku dengan sangat kuat. Aku, yang sudah kembali mendapatkan kesadaranku, langsung mendorong dada Indra sampai-sampai ia terjengkang kebelakang.

”Ndra. Seharusnya ini nggak boleh terjadi.” Kataku dengan nada bergetar menahan rasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku.

”Maaf, Ci Lisa. Mungkin aku terlalu nekat. Seharusnya aku sadar bahwa cici sudah bersuami. Tapi inilah kenyataannya, aku sayang sama Ci Lisa.” Katanya sambil menatap mataku dengan serius.

Ah, dia sayang padaku? Mustahil, apakah orang yang sudah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama… adalah aku?? Aku kah orang yang bisa membuat orang sehebat dan seganteng dia jatuh hati pada pandangan pertama? Memangnya apa yang istimewa dari diriku? Bukankah Indra juga sudah punya pacar? Sehebat itukah aku, sampai bisa membuat Indra berpaling hati dari pacarnya?

Selama berdetik-detik, tidak satupun kata yang keluar dari mulut kami masing-masing. Aku terlalu larut dalam pikiranku, sementara Indra sepertinya menunggu kata-kata dariku. Sampai akhirnya, Indra berdiri dan membungkukkan badan kepadaku, kemudian pergi meninggalkanku.

Saat itu, aku merasa sangat menyesal. Aku merasa telah mengkhianati suamiku. Aku, yang sebelumnya tidak terpikir akan melakukan hal seperti itu, kini telah menodai kepercayaan suamiku padaku, meskipun hal itu bukan aku yang memulai. Akan tetapi, anehnya aku tidak marah sama sekali pada Indra. Malah, saat itu aku merasa menjadi wanita paling hebat sedunia karena bisa menaklukan hati pria ganteng dan hebat seperti Indra. Yaah, mendapat ciuman dari pria ganteng, kenapa tidak? Sudahlah, bukan aku gini yang mulai. Aku anggap lalu saja.

Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku pun keluar dari ruanganku. Sepanjang perjalanan, entah kenapa hatiku berdebar-debar sendiri jika mengingat ciumanku dengan Indra itu. Saat itu pula, aku tersenyum-senyum sendiri. Kenapa ya? Aku sendiri juga tidak tahu.

Selama beberapa hari ke depan, kami tidak saling berbicara satu sama lain. Meskipun tidak marah, aku sengaja menjaga jarak darinya. Gitu-gitu, dia juga sudah punya pacar. Aku khawatir jika kami semakin dekat, akan terjadi sesuatu yang tidak baik yang menyebabkan retaknya hubungan mereka. Akan tetapi, namanya manajer dan asisten manajer, mana mungkin tidak berbicara sama sekali. Akhirnya, tanggung jawab pekerjaan pun memaksa kami untuk kembali berbicara. Akibatnya, keakrabanku dan Indra mulai kembali lagi. Bahkan karena kami selalu saling membantu, kami menjadi lebih akrab dari sebelumnya.

Kedekatan dan keakrabanku dengan Indra semakin tinggi dari hari ke hari. Beberapa kali jika Indra konsultasi denganku, ia selalu memberikan hadiah, berupa ciuman lembut di bibir seperti yang waktu pertama kali. Tentu itu dilakukannya jika tidak ada orang yang melihat. Meskipun pada akhirnya aku menolaknya, tetapi anehnya, aku tidak pernah marah dengan perbuatan Indra itu. Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu, apakah ini dikarenakan permasalahanku yang begitu menginginkan kepuasan seksual yang tidak bisa diberikan oleh suamiku, ataukah aku telah memiliki perasaan sayang yang sama seperti Indra sayang kepadaku. Sekali lagi, aku betul-betul bingung dengan perasaanku sendiri. Aku sendiri merasa sangat nyaman berada di dekat Indra.

Suatu hari, pada saat aku mengerjakan pekerjaan harianku pada siang hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerjaku. Tok tok tok…

“Masuk.” Kataku.

“Permisi, ci.” Kata Indra sambil membuka pintu ruanganku.

“Kenapaa kamuu?” Tanyaku sambil tersenyum.

Indra hanya memajukan bibir bagian bawahnya sambil menundukkan kepalanya. Hmmm, kok sepertinya ada yang serius ya?

“Duduk, Ndra. Ada apa?” Tanyaku sambil mempersilakan Indra duduk.

Indra pun kemudian duduk dihadapanku. Kemudian, ia melihat wajahku dengan sangat serius.

“Maaf, ci. Aku mao ngajuin resign.” Kata Indra.

Mendengar hal itu, bukan main aku kagetnya.

“Hah? Kenapa, Ndra?” Tanyaku.

“Aku… mao merintis usaha sendiri, ci.” Kata Indra.

Aah, merintis usaha sendiri ya? Aku akan merasa kehilangan jika Indra harus resign, karena pengetahuannya tentang kantor dan proses belajarnya yang sangat cepat itu tidak mudah didapatkan. Di sisi lain, aku yang mungkin mulai jatuh cinta pada Indra, pastilah akan kehilangan. Akan tetapi, sebagai atasan dan seorang teman, sudah kewajibanku untuk mendukungnya demi kemajuan masa depannya.

“Yakin nih, Ndra? Atau mungkin ada yang kira-kira perusahaan bisa tawarkan agar kamu tetap disini?” Tanyaku.

“Aku yakin, ci. Keputusanku udah bulat.” Kata Indra.

“Oke kalo gitu, Ndra.” Kataku sambil tersenyum dan mengangguk.

“Cici jangan sedih ya. Aku masih di Indonesia kok.” Kata Indra.

“Eh, siapa yang sedih? Kamu kali yang sedih karena bakal pisah ama aku.” Kataku.

“Iya, itu betul, ci. Aku bakal sedih karena bakal pisah ama cici.” Kata Indra dengan serius.

Deg. Sial, sepertinya aku salah mengucapkan kata-kata. Yah, tapi mungkin dia memang memiliki perasaan kepadaku. Memang haknya untuk suka kepada siapapun, termasuk diriku. Mau tidak mau, aku hanya memang bisa menerimanya.

“Makasih, Ndra. Tapi diluar sana, masih banyak kok cewek yang lebih baik dan cantik dari aku. Suatu saat nanti, kamu pasti nemuin cewek itu kok.” Kataku.

Indra pun berpikir sebentar, kemudian ia tersenyum kecil.

“Yah, mungkin sih ci. Toh, kita ga pernah tahu masa depan seperti apa. Tapi, cici harus tahu bahwa cici itu spesial, dan ga mungkin ada yang serupa persis sama cici.” Kata Indra.

Mendapat pujian seperti itu, jujur hatiku terasa deg-degan. Aku suka sekali pujian macam itu. Pujian yang begitu tulus mengena, tidak dibuat-buat dan tidak berlebihan, dan juga masuk akal.

“Ah…” Kataku kehabisan kata-kata.

“Oke, ci. Ini surat resign-ku.” Kata Indra sambil menyerahkan surat resign-nya.

“Iya, nanti aku sampaikan ke HRD.” Kataku sambil menerima surat resign-nya.

“Sukses ya, Ndra.” Kataku.

Indra pun hanya mengangguk, kemudian dia berdiri. Akan tetapi, ia tidak keluar ruangan. Lagi-lagi, ia memberiku ciuman di bibir seperti biasanya. Entah mungkin karena ia sudah akan resign, aku tidak tega jika harus menghindar. Akhirnya, selama beberapa puluh detik, kami saling melumat bibir kami. Setelah itu, Indra pun keluar dari ruanganku. Peraturan perusahaan tempatku bekerja ini mengharuskan karyawan untuk bekerja selama sebulan lagi sejak mengajukan resign, jadi Indra masih mempunyai waktu sebulan untuk mentransfer pengetahuan kerjanya.

Selama sebulan ini, aku dan Indra tetap dekat dan akrab seperti biasanya. Beberapa kali ia berkonsultasi denganku masalah pekerjaan. Kadang-kadang, kami juga saling curhat. Indra sekarang sudah menjadi orang yang selalu menampung curhatku. Ia juga selalu ada untukku ketika aku membutuhkannya. Aku sadar, mungkin memang sedikit demi sedikit, hatiku juga sudah mulai memberikan tempat bagi Indra. Hanya saja, aku ingat dengan statusku yang sudah menikah, karena itu kadang-kadang aku tidak membiarkan hatiku terus berbunga-bunga untuk Indra. Sangat sulit sekali melakukannya, karena memang cinta adalah salah satu perasaan paling sulit dilawan.

Suatu hari, pada hari Jumat, yaitu hari terakhir masa kerja Indra di perusahaan ini. Indra mendatangiku di ruanganku.

“Ci, besok jalan-jalan yuk.” Kata Indra.

“Hah? Jalan-jalan? Nggak ah.” Kataku.

Tentu saja aku menolaknya. Aku khawatir kalau kedekatanku dengannya menjadi semakin jauh dan menyebabkan perselingkuhan yang sebenarnya. Selama ini, walaupun dekat dan akrab, tapi aku tetap berusaha membuat batas-batas antara aku dan Indra. Aku tidak bisa membiarkan perasaan cintaku pada Indra begitu meluas. Aku harus mengendalikannya. Jika aku jalan-jalan bersamanya, tentu saja rasa cinta itu akan berkembang menjadi lebih luas.

“Ayolah, ci. Aku nggak pernah jalan-jalan nih sama cici.” Kata Indra.

Ya, memang aku tidak pernah jalan-jalan berduaan bersama Indra. Mulai muncul godaan dalam hatiku untuk menyetujui ajakannya. Ah, tidak boleh! Aku harus bisa menolaknya. Ini kan hari terakhirnya. Kalau aku bisa menolaknya, setelah hari ini harusnya aku lebih mudah untuk menyingkirkannya dari hatiku.

“Ndra, jangan lah. Aku kan juga udah bersuami. Apa kata orang nanti kalo kita jalan-jalan sama-sama?” Kataku berusaha sekuat hati untuk menolaknya.

“Tenang aja, ci. Ga ada yang tahu kok.” Kata Indra.

Ah, nggak ada yang tahu. Betul juga ya. Toh, hanya jalan-jalan saja. Mungkin aman kali ya? Aku sesekali ingin jalan-jalan berduaan dengannya. Eh, tidak boleh! Tidak.. tidak… tidak boleh! Gejolak hatiku antara dua perasaan ini begitu kuat.

“Kamu kan juga udah punya pacar, Ndra. Aku juga nggak enak lah sama pacar kamu.” Kataku berusaha untuk mencari-cari alasan.

“Tenang aja, ci. Itu urusanku. Mengenai apa yang akan terjadi sama hubunganku sama pacar aku, itu sepenuhnya tanggung jawab aku. Lagian ini kan hari terakhirku nih di perusahaan ini. Aku nggak tau kapan ketemu cici lagi” Kata Indra.

“Yah, kita tetep bisa ketemuan lah, Ndra. Kan katanya kamu tetep di Indonesia.” Kataku.

“Nah, apa bedanya ketemuan nanti-nanti dengan besok?” Tanya Indra.

Aduh, dia ini betul-betul tetap berpegang pada karakternya, tidak mudah menyerah. Dan sialnya, aku juga semakin tergoda.

“Udah, Ndra. Jangan. Kapan-kapan aja, ya.” Kataku masih berusaha menolaknya.

“Soalnya biasanya kan kalo udah pisah itu lost contact, ci. Ayolah, ci. Pleassee…” Kata Indra.

Ah, disinilah pertahananku runtuh sepenuhnya. Di samping tidak tega, aku sendiri pun mengakui bahwa aku sangat ingin setidaknya jalan-jalan sama Indra berdua sekali saja. Baiklah, akhirnya hatiku memutuskan bahwa aku akan menyetujui ajakannya. Akan tetapi, di sisi lain aku bingung apa yang harus kujelaskan pada keluargaku jika aku menyetujui ajakannya. Indra terus melihatku dengan penuh harap. Jika melihat dari tatapannya, aku memang semakin tidak tega. Sudahlah, aku sendiri sebetulnya juga menginginkan hal itu, ingin sekali merasakan rasanya jalan-jalan berdua dengannya. Mungkin, Indra pun merasakan hal yang sama denganku.

“Oke.” Kataku.

“Nah, gitu dong, ci. Akhirnya.” Kata Indra.

“Eits, tapi banyak syaratnya, Ndra.” Kataku.

“Apa aja ci? Aku siap memenuhinya selama itu bukan yang menghalangi acara.” Kata Indra.

“Pertama, nggak boleh ada orang lain yang tahu.” Kataku.

“Oke. Gampang.” Kata Indra.

“Kedua, hari minggu aja, Ndra. Jangan besok. Karena minggu biasanya orang-orang pada istirahat di rumah. Jujur aja, kalo ketahuan sama orang lain, aku takut orang lain berpikiran yang nggak-nggak ke aku.” Kataku.

“Oke. Gampang.” Kata Indra.

“Ketiga, kita perginya ke luar kota aja.” Kataku.

“Hmmm, Puncak gimana, ci?” Tanya Indra.

“Puncak… Hmmm, boleh sih kayanya.” Kataku.

“Tapi kalo ke Puncak, berarti agak subuh dong ci berangkatnya?” Tanya Indra.

“Oh iya, bisa macet ya kalo nggak subuh-subuh?” Tanyaku.

“Betul.” Kata Indra.

“Oke, nggak masalah. Kira-kira jam 5 ya kita berangkat.” Kataku.

“Oke. Hari Minggu jam 5 aku jemput cici di rumah.” Kata Indra.

“Eh. Jangan di rumah. Kita ketemuan aja di suatu tempat. Nanti alamatnya aku kasihtau besok.” Kataku.

“Oke deh, ci. Deal ya hari Minggu.” Kata Indra.

“Iya-iya.” Kataku.

“Oke. Sampai hari minggu, ci.” Kata Indra sambil keluar dari ruanganku.

Kemudian, karena hari itu sudah saatnya jam pulang, kami merayakan last day nya Indra di kantor. Anak-anak ABG divisi accounting itu pun sepertinya pada sedih karena kehilangan Indra. Dasar anak-anak ABG hahaha. Setelah acara selesai, aku segera pulang ke rumah. Haah, hari minggu ya. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Cerita Dewasa Terbaru Episode II – Puncak

Agar suamiku tidak curiga, aku katakan padanya aku pergi ke rumah manajer Finance, Ani, yang notabenenya adalah sahabatku untuk menyelesaikan lemburan kantor. Untungnya suamiku tidak mengenal teman-temanku, jadi harusnya dia tidak mungkin mengecek temanku untuk memastikan keberadaanku. Aku sudah memberitahu Indra untuk menjemputku didepan rumah Ani. Aku memanggil taksi dan memintaku mengantarku ke rumah Ani yang letaknya cukup jauh dari rumahku. Suamiku tidak mengantarku karena kemarin ia kecapekan habis nonton final liga champion. Kebetulan deh.

Jam lima subuh kurang, aku sudah sampai di depan rumah Ani. Tidak lama kemudian, Indra datang menjemputku dengan mobil kijang-nya. Aku pun langsung naik, dan Indra langsung tancap gas. Hanya dalam dua jam saja, kami sudah sampai di daerah Puncak. Kami mengunjungi banyak obyek wisata di puncak. Sekitar jam sebelasan, kami turun di Kebun Teh untuk berjalan-jalan disana. Terkadang, kami juga mengambil spot yang bagus untuk berfoto.

“Ndra, jangan dipasang di medsos atau di chatting service ya.” Kataku.

“Tenang aja, ci.” Kata Indra.

Aku lega karena sepertinya perkataannya bisa dipegang. Sesekali, ia juga menggandeng tanganku di Kebun Teh. Entah kenapa, aku tidak berusaha menepisnya. Malah, aku enjoy-enjoy saja digandeng tangannya. Aahh sudahlah, setelah besok juga kami akan semakin jauh dan akhirnya lost contact.

Kami makan siang di suatu restoran seafood di Puncak. Bahkan, sesekali ia menyuapiku makan. Yang lebih anehnya lagi, aku terima-terima saja disuapi olehnya. Gawat, apakah sebetulnya aku juga sudah kepincut oleh Indra? Ah, tenang-tenang. Hari ini terakhir. Setelah besok, dia juga hilang. Aku memilih untuk tidak ambil pusing mengenai masalah ini.

Setelah selesai makan siang, jam sudah menunjukkan pukul empat belas. Aku mengajaknya untuk segera pulang, karena takutnya kemalaman. Indra pun menyetujui ajakanku. Kami pun segera naik ke mobil, dan Indra pun mengemudikan mobilnya menuruni Puncak Pass. Di tengah perjalanan, aku melihat Indra sepertinya agak kelelahan. Maklum. Habis makan siang itu bawaannya ngantuk.

“Kenapa, Ndra? Ngantuk?” Tanyaku.

“Dikit doang, ci.” Kata Indra sambil tetap fokus ke depan.

“Kayaknya mendingan istirahat dulu deh di suatu tempat. Daripada bahaya.” Kataku.

“Ga lah, ci. Lagian bahaya mah ga apa-apa, aku kebiasa kok sama bantingan.” Kata Indra.

“Yeee, siapa yang mikirin kamu? Aku takut kena bahaya tau!” Kataku.

“Hahahaha. Yaudah deh, kayanya mending kita istirahat dulu. Gimana, ci?” Tanya Indra.

“Oke-oke aja sih. Tidur dulu aja dua jam gitu, abis itu baru nyetir lagi ke Jakarta.” Kataku.

“Oke. Di Losmen Kariya saja ya.” Kata Indra.

“Terserah.” Kataku.

Losmen Kariya? Aku belum pernah dengar sih. Akan tetapi, sepertinya Indra tahu jalan. Hingga akhirnya, ia memasuki suatu jalan kecil yang sepertinya menuju losmen. Setelah menyusuri jalan kecil ini, kami tiba di suatu losmen yang cukup besar dan sepertinya cukup bersih dan terawat.

Setelah kami turun dari mobil, kami langsung menuju kasir untuk memesan kamar. Indra menyewa satu kamar. Aku pun juga hendak memesan satu kamar. Sebelum resepsionis sempat memproses reservasiku, ia terlebih dulu menyerahkan kunci kamar kepada Indra. Indra pun langsung menggandengku.

“Yuk, ci.” Kata Indra.

“Eh, tunggu, Ndra. Aku belum pesen.” Kataku.

“Udah, bareng aja.” Kata Indra sambil menunjukkan kunci kamar yang ia dapatkan.

“Loh, jangan dong, Ndra. Ntar kamu jadi sempit loh kalo aku juga numpang di kamar kamu.” Kataku.

”Udahlah, tuh bed-nya ada dua. Kamarnya emang sengaja aku pesen yang gede-an. Udah bareng aja, ci. Ngapain boros-boros?” Kata Indra.

“Aduh, Ndra. Udahlah nggak apa-apa. Aku sewa satu kamar lagi aja, masa kamu yang bayar kamar, terus aku tinggal numpang. Nggak enak aku.” Kataku.

“Udah, ga apa-apa, ci. Emang aku pesen yang gedean tuh biar cici bisa sekalian.” Kata Indra sambil menarik tanganku.

Ya, kalau begini sih ya sudahlah. Daripada debat tiada akhir, malu-maluin di depan kasir. Akhirnya aku mengalah, Indra tetap menggandeng tanganku sambil berjalan kearah kamar yang disewa oleh Indra. Aku berjalan saja mengikutinya. Kamar yang disewa oleh Indra tidak begitu jauh dari kasir. Sebelah kamar kami terbuka, sepertinya kosong. Yang sebelahnya lagi tertutup, sepertinya ada yang menyewa. Kamar ini lumayan besar, berukuran sekitar lima kali enam meter persegi. Ada dua tempat tidur terpisah dalam kamar ini.

Aku segera mengambil tempat tidur yang di kiri, kemudian langsung berbaring. Indra pun duduk di ranjang yang sama denganku, persis disebelahku. Ia pun kemudian membelai-belai rambutku dengan lembut.

“Capek ya?” Tanya Indra dengan lembut.

“Nggak sih, baringan aja.” Kataku.

Aku tetap membiarkan Indra membelai-belai rambutku. Aku mulai memejamkan mataku. Berbagai macam pikiran terus bermunculan dalam kepalaku. Hari ini, lumayan menyenangkan sih. Ternyata, jalan-jalan dengan Indra itu asik juga. Meskipun seringkali ia merangkul pundakku, menggandeng tanganku, dan membelai-belai rambutku, aku tetap tidak merasa risih. Justru sebaliknya, aku merasa nyaman diperlakukan begitu olehnya. Bahkan, aku semakin menikmati belaian tangannya dirambutku sekarang. Ah, rasanya betul-betul seperti zaman pacaran dulu, begitu dimabuk oleh cinta.

Tiba-tiba, Indra mengangkat tubuhku dan langsung mendudukanku dipangkuannya. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis halus Indra menempel kebibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir halus Indra melumat mulutku. Lidah Indra menelusup kecelah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu, darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding. Semua itu dilakukannya dengan sangat lembut.

Namun, tiba-tiba kesadaranku timbul kembali. Maka, kudorong dada indra supaya ia melepaskan pelukannya pada diriku.

”Ndra, jangan Ndra. Ini nggak pantas kita lakukan!” Kataku terbata-bata.

Indra memang melepaskan ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampingku dengan erat. Aku juga masih terduduk dipangkuannya.

”Kenapa ga pantes, ci? Aku ini betul-betul sayang kok sama Ci Lisa. Ci Lisa juga sayang sama aku kan?” Kata Indra yang terdengar seperti desahan.

Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Jujur, aku kebingungan sekali jika harus menjawab pertanyaan itu.

“Ga apa-apa, ci. Tenang aja. Aku ga akan ngecewain cici. Aku beneran sayang kok sama cici.” Kata Indra sambil membelai-belai rambutku.

Seolah begitu terhipnotis oleh kata-kata Indra dengan nada yang lembut itu, aku pun merasa tenang. Setelah itu, Indra kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi seluruh wajahku, lalu merambat ke leher dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Indra sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya ke leherku benar- benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku sekalipun belum pernah aku merasakan rangsangan sehebat ini.

Indra sendiri tampaknya juga sudah mulai terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah. Sementara, aku semakin tidak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku.

Setelah itu tiba-tiba tangan Indra yang kekar itu membuka kancing kemeja hijau-ku.
Cepat sekali ia membukanya. Hanya dalam beberapa detik saja, seluruh kancing kemeja hijau-ku sudah terbuka sepenuhnya. Secara refleks aku masih mencoba untuk berontak.

”Cukup, Ndra! Jangan sampai kesitu. Aku takut, Ndra.” Kataku sambil meronta dari pelukannya.

”Takut sama siapa, ci? Toh ga ada yang tahu. Percaya sama aku, ci. Aku akan muasin Ci Lisa.” Jawab Indra dengan napas yang memburu.

Seperti tidak peduli dengan protesku, Indra yang telah melepas kemeja hijau-ku sepenuhnya, kini ganti sibuk melepas BH hijau-ku. Meskipun aku berusaha meronta, tetap tidak berguna sama sekali sebab tubuh Indra yang tegap dan kuat itu mendekapku dengan sangat erat.

Dalam pelukan Indra, buah dadaku kini terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun. Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan tangan di dadaku. Akan tetapi, dengan cepat tangan Indra memegangi tanganku dan merentangkannya. Setelah itu, Indra mengangkat dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Indra melumat salah satu buah dadaku, sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas buah dadaku yang lainnya. Bagaikan seekor singa buas, ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini. Kini, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeramku. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat yang kurasakan ketika bibir dan lidah Indra menjilat dan melumat puting susuku.

”Ci.. da.. dada cici putih dan in.. indah sekali. A.. aku makin sa… sayaang sama cicii… ” Kata Indra terputus-putus karna nafsu birahi yang kian memuncak.

Mendapat pujian seperti itu, nafsu birahiku semakin menggelora. Mungkin karena biasanya suamiku tidak pernah memuji tubuhku bahkan seinci pun. Kemudian, Indra juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali mengelitik buah dada hingga perutku. Sekali lagi, aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu.

Kemudian, Indra melepas celana pendek coklat dan celana dalam hijau-ku dengan cepat dan tanpa kuduga dalam sekali tarikan. Lagi-lagi, aku berusaha melawan. Akan tetapi, dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki oleh Indra, ia menaklukkan perlawananku dengan mudah. Sekarang, tubuhku yang ramping dan putih itu benar-benar telanjang total dihadapan Indra. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang di hadapan laki-laki lain, kecuali di hadapan suamiku. Sebelumnya, aku juga tidak pernah terpikir akan melakukan perbuatan seperti ini. Akan tetapi, kini Indra berhasil memaksaku. Sementara, aku seperti pasrah tanpa daya.

”Ndra, untuk yang satu ini jangan, Ndra. Aku nggak ingin ngerusak keutuhan perkawinan aku..!” Pintaku sambil meringkuk diatas tempat tidur, untuk melindungi buah dada dan vagina-ku yang kini tanpa penutup.

”Cii… Sekaraang udah nanggung banget… Kita terusin aja, ci… Kasih kesempatan ke aku buat ngebuktiin kalo aku sayang sama cici… Aku ga main-main kok, ci… Aku pasti bakal ngebahagiain cici kok…” Kata Indra masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.

Entah karena tidak tega atau karena aku sendiri juga sudah terlanjur terbakar birahi, aku diam saja ketika Indra kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya kembali menggarap kedua buah dadaku, sementar tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikmatan itu. Sementara, napasku juga semakin terengah-engah.

Tiba-tiba, Indra melepaskanku. Ia beranjak dari tempat tidur dan dengan cepat melepas semua pakaian yang menempel ditubuhnya, dari kaos polo putihnya, sampai celana pendek kargo dan celana dalam-nya. Sekarang, ia sama denganku, telanjang bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar dengan laki-laki yang bukan suamiku. Ohhh… aku melihat tubuh Indra yang memang benar-benar atletis, besar, dan kekar. Otot-otot perut, dada, dan tangannya begitu terbentuk. Ia lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan suamiku yang berperawakan sedang-sedang saja. Akan tetapi, yang membuat dadaku berdegub lebih keras adalah benda di selangkangan Indra. Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku itu berwarna coklat muda dan kini tegak mengacung. Panjangnya kutaksir tidak kurang dari 18 cm, atau hampir satu setengah kali lipat dibanding milik suamiku. Sementara besarnya sekitar 2 sampai 3 kali lipatnya. Pangkal batang kemaluan Indra yang panjang itu juga ditumbuhi oleh rambut-rambut yang lumayan rimbun. Sungguh, aku tidak percaya laki-laki seumur Indra memiliki penis sebesar dan sepanjang ini. Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemes, dan penasaran.

Kini, tubuh telanjang Indra mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Indra menempel erat dengan dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain selain suamiku. Ia masih meciumi dan menjilati sekujur tubuhku, sementara kedua tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan se-dashyat ini.

Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku. Ternyata, Indra nekat memasukkan jari telunjuknya ke celah lubang vaginaku. Ia memutar-mutar telunjuknya didalam lubang vaginaku. Oohh, gesekan jari telunjuknya betul-betul pas mengena titik sensitif milikku sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-mutar pantatku. Akan tetapi, aku masih berusaha menolaknya.

”Ndra, jangan sampai dimasukkan jarinya! cukup diluaran saja..!” Pintaku.

Akan tetapi, lagi-lagi Indra tidak menggubrisku. Malah, kini ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu melumat habis vaginaku dengan bibir dan lidahnya. Aku tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Indra yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini, aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi. Secara refleks, aku juga mendorong kepala Indra masuk lebih jauh ke selangkanganku. Ia tidak ada henti-hentinya melumat lubang vaginaku.

Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, tiba-tiba Indra melepaskanku dan berlutut di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngocok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut.

”Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif. Capek nih. Sekarang ganti Ci Lisa dong yang aktif..! ” Kata Indra dengan manja.

”Aku nggak bisa, Ndra. Lagian aku masih takut..! ” Jawabku dengan malu-malu.

”Oke. Kalo gitu, pegang aja iniku ya. Please, kumohon sayang..” Ujarnya sambil menyodorkan batang penis besar itu kehadapanku.

Aku pun mulai bangun dari tempat tidurku. Kini, Indra gantian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku pun memasang posisi merangkak dihadapannya untuk memegang batang kejantanan milik Indra itu. Batang kejantanan milik Indra tegak dan kokoh mengacung keatas. Dengan malu-malu, kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lagi-lagi, dadaku berdebar-debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Indra. Sejenak, aku sempat membayangkan bagaimana nikmatnya jika penis yang besar dan keras itu dimasukkan ke lubang vagina perempuan. Apalagi, jika perempuan itu aku.

”Gimana ci? Besar ga?” Goda Indra sambil tersenyum penuh arti.

Aku tidak menjawab walau dalam hati aku mengakui bahwa penis Indra itu sangat besar dan menggemaskan. Ingin sekali rasanya aku mengocok-ngocoknya.

”Diapain nih, Ndra..? Beneran aku bingung…” Kataku berbohong sambil memegang penis Indra.

”Oke, biar gampang, dikocok aja, sayang. Bisa kan..?” Jawab Indra dengan lembut.

Dengan dada berdegub kencang, aku mulai perlahan-lahan mengocok penis besar milik Indra. Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok batang penis Indra yang sangat besar tersebut. Gila, tanganku hampir tidak cukup memegangnya. Aku berharap dengan kukocok penisnya, sperma Indra cepat muncrat sehingga ia tidak berbuat lebih jauh kepada diriku.

Indra, yang kini telentang disampingku, memejamkan matanya ketika tanganku mulai dengan cepat naik turun mengocok batang zakarnya. Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah semakin meningkat. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar dihadapanku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat.

Tiba-tiba, Indra memutar tubuhnya, sehingga kepalanya kini tepat berada diselangkanganku. Sebaliknya, kepalaku juga tepat menghadap selangkangannya. Indra kembali melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vaginaku, sementara aku masih terus mengocok batang penis Indra. Kini kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga saling memburu.

Setelah itu, Indra melepaskan mulutnya dari selangkanganku. Ia juga beranjak bangun dari posisi telentangnya. Tangannya melepaskan tanganku dari kocokan batang penisnya, kemudian ia membaringkan tubuhku telentang di tempat tidur. Dengan cepat, ia langsung menindih tubuhku. Dari kaca lemari yang terletak disebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Indra yang tinggi besar mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila, kini aku yang telanjang digumuli oleh lelaki yang juga telanjang, dan laki-laki itu bukan suamiku.

Indra kembali melumat bibirku. Kali ini, ciumannya teramat lembut. Sementara tangan kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi. Jujur, aku betul-betul merasa begitu dilindungi dan disayang karena dipeluk erat dan dicium lembut seperti ini. Entah apakah rasa sayang atau birahi yang mendorongku, aku pun juga membalas ciuman Indra dengan lembut. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Indra. Indra terpejam merasakan seranganku. Bibir kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing selama bermenit-menit. Peluh kami mulai mengucur dengan deras dan berbaur di tubuhku dan tubuh Indra.

Dalam posisi itu, tiba-tiba kurasakan ada benda kenyal mengganjal diatas perutku. Ohhh… aku semakin terangsang luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Indra. Tiba-tiba kurasakan batang penis itu mengganjal tepat di bibir lubang kemaluanku. Rupanya Indra nekat berusaha memasukkan batang penisnya ke vaginaku. Tentu saja aku tersentak.

”Ndra.. jangan dimasukkin..! ” Kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.

Aku tidak tahu apakah permintaanku itu tulus atau tidak sebab di sisi hatiku yang lain sejujurnya aku juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk ke lubang vaginaku.

”Oke.. kalau gaa boleh dimasuukin, aku gesek-gesekin dibibirnya aja ya sayang..? ” Jawab Indra juga dengan napas yang terengah-engah.

“Iyaah… Gesek-gesekin aja yaa… Jangan dimasukiin…” Jawabku.

Kemudian Indra kembali memasang ujung penisnya tepat dicelah vaginaku. Sungguh, aku deg-degan luar biasa ketika merasakan kepala batang penis itu menyentuh bibir vaginaku. Namun, karena batang penis Indra memang berukuran super besar, Indra sangat sulit memasukkannya ke dalam celah bibir vaginaku. Padahal, jika aku bersetubuh dengan suamiku, penis suamiku masih terlalu kekecilan untuk ukuran lubang senggamaku.

Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung batang kemaluan Indra berhasil menerobos bibir vaginaku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung penis yang besar itu mulai menerobos masuk. Seperti janji Indra, penisnya yang berukuran jumbo itu hanya digesek-gesekan dibibir vaginaku saja. Memang mulanya terasa sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tiara. Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang kurasakan betul-betul membuatku hampir teriak histeris. Indra terus mamaju-mundurkan batang penisnya sebatas di bibir vaginaku. keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus berpagutan.

”Ayoohh.. ngoommoong saayang… giimaanna raasaanyaa..? ” Kata Indra tersengal-sengal.

”Oohh.. teeruuss.. Ndraa.. teeruss..! Desahku sama-sama tersengal.

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah menerobos masuk sepenuhnya ke dalam vaginaku. Bless… perlahan tapi pasti, batang kemaluan yang besar itu melesak kedalam lubang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang penis Indra yang sangat-sangat besar itu.

“Lohh..? Ndraa..! Dimaassuukiin seemmua yah..?” Tanyaku.

”Taanguung, saayang. Aku nggak tahhan..! ” Ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.

Entahlah,kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua divaginaku, aku hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tidak tertahankan. Begitu besarnya penis si Indra, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat dan dorongan pantatnya yang kuat, batang penis Indra semakin tertekan kedalam vaginaku dan melesak hingga kedasar rongga vaginaku.

Aku merasakan rambut kemaluan Indra yang keriting dan kering itu bergesekan dengan rambut kemaluanku. Aku merasakan geli dan nikmat yang luar biasa ketika rambut kemaluanku bergesekkan dengan rambut kemaluan Indra. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang penis Indra menggesek-gesek dinding vaginaku. Tanpa sadar, aku pun mengimbangi genjotan Indra dengan menggoyang pantatku. Kini, tubuh rampingku seperti timbul tenggelam diatas kasur busa yang ditindih oleh Indra dengan tubuh besar dan kekarnya. Semakin lama, genjotan Indra semakin cepat dan keras, sehingga badanku tersentak- sentak dengan hebat. Plok.. , plok.. , plok.. , ceplok.. , begitulah bunyi batang Indra Indra yang terus memompa selangkanganku dan saat pangkal batang penis Indra menabrak selangkanganku.

”Teerruss Nndraa..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..! Ayoo teruuss Ndraa…!” Erangku berulang-ulang.

Semakin aku mengerang, semakin cepat Indra menggenjot selangkanganku. Sungguh, ini permainan seks paling nikmat yang pernah kurasakan selama seumur hidupku ini. Aku sudah tidak berpikir lagi tentang kesetiaan kepada suamiku. Indra benar-benar telah menenggelamkan aku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri tidak bisa memberikan aku kepuasan dan kenikmatan sedashyat ini. Lagipula, sekarang ini sudah tanggung untuk menghentikannya.

Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa disekujur tubuhku. Kenikmatan ini seolah-olah membuat badanku hendak meledak. Instingku mengatakan bahwa kenikmatan puncakku sudah dekat. Badanku mengelepar-gelepar dibawah gencetan tubuh Indra. Seketika itu seperti tidak sadar, kuciumi lebih berani bibir Indra. Aku juga memeluk tubuh Indra erat-erat.

”Nndraa.. aakkuu.. haampiir.. klimaakkss.. niih!” desahku ketika hampir mencapai puncak kenikmatan.

Tahu aku hampir klimaks, Indra semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya ke selangkanganku. Saat itu, tubuhku semakin meronta-ronta dibawah dekapan Indra yang kuat.

”Kaalauu.. uudahh.. klimaakss.. ngoommoong.. saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaas.! ” Desah Indra sambil terus memompa selangkanganku.

Akibat genjotan Indra yang sangat kencang itu, aku akhirnya betul-betul klimaks.

”Ooh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Nndraa..! ” Erangku.

Seketika dengan refleks, tangan kananku menjambak rambut Indra, sedangkan tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan keatas agar batang kemaluan si Indra dapat menancap sedalam-dalamnya. Oohh, aku merasakan denyutan kenikmatan klimaks di vaginaku. Tidak hanya di vaginaku, seluruh tubuhku pun bergetar menyambut kenikmatan klimaks ini. Apa yang kurasakan ini betul-betul membuatku lupa dengan keadaan sekitar. Dunia ini terasa begitu indah. Yang kuingat, aku hanya mengerang untuk menikmati kenikmatan yang kudapatkan ini.

Setelah sekian lama, akhirnya kenikmatan yang kudapat itu pun berangsur-angsur turun hingga akhirnya itu semua pun berlalu. Tubuhku melemas dengan sendirinya. Aku mulai membuka mataku pelan-pelan. Yang pertama kali kulihat adalah wajah Indra yang sepertinya begitu puas karena bisa memberikan kenikmatan seperti itu padaku. Ia pun memeluk tubuhku erat, sambil mencium keningku dan membelai-belai rambutku. Ooohh, bukan hanya kenikmatan yang kudapatkan, tapi juga perasaan begitu disayangi yang luar biasa. Sungguh, saat itu juga, aku merasa bahwa Indra adalah pria paling ganteng dan perkasa di muka bumi ini. Sekarang, aku menyadari bahwa perasaan Indra padaku tidaklah main-main. Melalui kepuasan yang kudapatkan, dia betul-betul telah mendapatkan tempat yang spesial dihatiku. Aku bisa mengakui sekarang bahwa aku betul-betul menyanyanginya.

“Gimana, ci?” Tanya Indra sambil melumat bibirku sekali dan terus membelai-belai rambutku.

“Kamu hebat, Ndra…” Kataku sambil memeluknya dan membelai-belai rambutnya.

“Aku sayang banget sama cici…” Kata Indra sambil tersenyum lembut dan membelai-belai rambutku.

“Aku juga sayang sama kamu, Ndra…” Kataku sambil mencium pipi Indra.

Kami pun saling berpelukan dengan erat dan berciuman dengan mesra. Aku betul-betul merasa jadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Aku betul-betul sedang dimabuk kembali oleh cinta. Kali ini, aku betul-betul tidak menahan perasaanku lagi. Aku betul-betul melepaskan semua perasaan yang kupendam pada Indra. Seperti inikah hubungan seks yang dilakukan oleh orang yang sama-sama cinta? Rasanya sungguh indah dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seluruh perasaan canggung dan takut sudah hilang daripadaku.

“Aku belum keluar sayang… Aku terusin dulu… Tahan sebentar ya, sayang!” Ujarnya lembut sambil mengecup pipiku dengan lembut. Tangannya juga masih membelai-belai rambutku.

“He-eh…” Kataku singkat sambil mengangguk.

Indra mulai kembali memompa lubang vaginaku dengan batang penisnya. Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan terus Indra memompa lubang vaginaku. Karena lelah, aku pasif saja saat Indra terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, kini badanku yang kecil dan ramping benar-benar tenggelam ditindih tubuh atletis Indra. Plok… plok… plok… plok… Aku melirik kebawah untuk melihat vaginaku yang sedang “disayang” oleh batang kejantanan Indra. Gila. Vaginaku dimasukki oleh penis sebesar itu. Dan yang lebih gila lagi, batang penis seperti itu nikmatnya tiada terkira.

Indra semakin lama semakin kencang memompa penisnya. Sementara, mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir, buah dada, dan puting susuku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu, tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan mulai merambat lagi dari selangkanganku yang dengan kencang dipompa oleh si Indra. Maka aku balik membalas ciuman Indra, semantara pantatku kembali berputar-putar mengimbangi penis Indra yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang vaginaku.

”Ciiciii ingiin.. lagii..?” Tanya Indra.

”He-eh nih…” Hanya itu jawabku.

Kini kami kembali mengelapar-gelepar bersama. Tiba-tiba Indra bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku diatas, Indra dibawah.

”Ayoohh gaantii…! Ciici seekaarang di ataass..” Kata Indra.

“Okehh Ndraa…” Kataku sambil mengambil ancang-ancang untuk memutar pantatku.

Dengan posisi tubuh diatas Indra, aku memutar-mutar pantatku. Maju-mundur… kiri-kanan… Aku terus memutar pantatku dengan perlahan-lahan untuk mengocok batang penis Indra yang masih mengacung didalam lubang vaginaku. Tanpa malu-malu, aku pun menyandarkan tubuhku diatas tubuh Indra, kemudian mencium bibirnya dengan lembut.

”Tuuh… biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. ga.. bisa…” Kata si Indra sambil membalas menciumku dan meremas-remas buah dadaku.

Jangan lewatkan cerita dewasa terbaru 2017 lainnya: Istri seorang teman lama.

Mendapat rangsangan berupa remasan di kedua buah dadaku, aku pun semakin cepat memutar-mutar pantatku. Kali ini, aku juga mulai menjilati puting dan leher Indra. Indra yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya merem-melek mendapatkan kenikmatan yang kuberikan. Sungguh, aku merasa bangga sekali ketika bisa menaklukan Indra yang begitu perkasa.

Hanya selang lima menit saat aku diatas tubuh Indra, lagi-lagi kenimatan tak terkira kembali menderaku. Maka, aku mulai menghunjam-hunjamkan vaginaku kebatang penis Indra dengan kuat. Aku menjatuhkan tubuhku keatas tubuh Indra dan memeluknya lehernya dengan mesra. Aku juga semakin liar mencium dan melumat bibir Indra.

”Nddraa.. aakuu.. haampiir.. klimakss.. laaggii.. ssaayaang..! ” Kataku terengah-engah.

Tahu kalau aku akan klimaks untuk yang kedua kalinya, Indra langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah. Dengan napas yang terengah-engah, Indra yang telah berada diatas tubuhku mulai memompa selangkanganku dengan cepat. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa disekujur tubuhku. Lalu, rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke selangkanganku. Indra kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tak menentu.

”Kalau mau klimaaks ngomong sayang, biaar lepaass..!” Desah indra.

Karena tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengalami klimaks yang kedua kalinya.

”Teruss.. , sayaanngg.. , akuu.. klimaks.. auuhhh! ” Desahku.

Aku merasakan tubuhku kembali bergetar dan kejang-kejang dilanda oleh kenikmatan klimaks kedua ini. Akan tetapi, disaat belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan ini, tiba-tiba Indra mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tak bisa bergerak, dan napasnya terus memburu. Genjotannya di vaginaku semakin cepat dan keras. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.

”Cii.. , akuu.. , maauu.. , keluaarr sayaangg..! ” Erangnya tidak tertahankan lagi di telingaku.

Melihat Indra yang hampir klimaks, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga semakin erat memeluknya, sementara bibirku terus melumat bibirnya.

“Huuuuhhhhhh…. Uuuooggghhh!” Indra mengerang dengan keras.

Bersamaan dengan itu… Croot.. croot.. croooot..! Sperma Indra terasa sangat deras muncrat di lubang vaginaku. Indra memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam-dalamnya di lubang kemaluanku. Aku terus memutar-mutar pantatku dengan sekuat tenaga untuk memeras habis sperma milik Indra. Croot… croott… crooott…! Batang penis Indra lagi-lagi menyemprotkan sperma dengan derasnya. Aku merasa lubang vaginaku terasa sangat hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari batang kemaluan si Indra. Gila, sperma Indra luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang vaginaku terasa basah kuyup. Bahkan karena saking banyaknya, sperma Indra belepotan hingga ke bibir vagina, rambut vagina, dan pahaku. Dalam momen klimaks bersama ini, kami terus berciuman dan berpelukan dengan mesra.

Berangsur-angsur, gelora kenikmatan itu mulai menurun. Kami mulai menghentikan ciuman bibir mesra kami. Untuk beberapa saat Indra masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. Tubuh kami berdua pun masih berpelukan dengan eratnya. Erangan-erangan kecil masih keluar dari mulut kami berdua guna mengatur napas kami masing-masing. Setelah itu, ia melepaskan pelukannya dan berguling kesampingku. Aku termenung menatap langit-langit kamar. Begitu pun dengan Indra. Ada sesal yang mengendap dihatiku. Kenapa aku harus menodai kesetiaan terhadap pernikahanku. Itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.

”Sorry, Ci Lisa. Aku telah khilaf dan memaksa cici melakukan perbuatan ini.” Ujar Indra dengan lirih.

Aku tidak menjawab, kami berdua kembali termenung dalam alam pikiran kami masing-masing. Bermenit-menit kemudian tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua. Setelah napasku kembali normal, aku mulai berdiri dari tempat tidur. Aku kembali mengenakan celana dalam-ku, BH-ku, kemudian celana pendek coklatku, dan kemeja hijauku. Aku juga membetulkan rambutku seadanya.

“Yuk, pulang.” Kataku.

Indra pun hanya mengangguk, kemudian ia pun mulai berdiri dari tempat tidur. Batang penis milik Indra kulihat sudah mulai melemas, dan masih belepotan oleh spermanya. Ia pun juga mengenakan pakaian lengkapnya. Kemudian, kami sama-sama melangkah dari losmen ini menuju ke mobil. Dalam perjalanan pulang, tidak ada satu pun kata-kata yang keluar dari mulut kami. Aku pun juga merasakan bahwa sperma Indra masih membasahi lubang vaginaku. Entah kenapa aku juga tidak tahu mengapa aku memilih untuk tidak membersihkannya.

Indra mengantarku sampai ke gang rumahku. Sebelum aku turun dari mobil, Indra sempat mengecup bibirku sekali. Kemudian, aku turun dari mobil dan berjalan menuju rumahku tanpa menoleh kebelakang.

The End (?)

Cerita dewasa terbaru 2017 ini belum temtu tamat lho. Sang penulis cerita ini masih menggarap kelanjutannya! Sambil menunggu, ada baiknya kamu membaca juga cerita dewasa terbaru lainnya, seperti: Kenekatan bersama ibu mertua.

Distibutor Vimax Extender Distibutor Vimax Extender

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*